Mengapa orang modern yang berpikir kritis mau percaya kepada Tuhan?

Pertanyaanmu tentang mengapa orang modern yang berpikir kritis tetap memilih untuk percaya menyentuh inti dari hubungan antara akal budi dan hati. Seringkali kita mengira bahwa iman dan nalar adalah dua hal yang bertentangan, namun bagi banyak pemikir, justru ketajaman akal budilah yang menuntun mer

Pertanyaanmu tentang mengapa orang modern yang berpikir kritis tetap memilih untuk percaya menyentuh inti dari hubungan antara akal budi dan hati. Seringkali kita mengira bahwa iman dan nalar adalah dua hal yang bertentangan, namun bagi banyak pemikir, justru ketajaman akal budilah yang menuntun mereka pada kesadaran akan keterbatasan diri, dan di situlah iman menemukan tempatnya yang paling jujur.

Mungkin kita bisa memandangnya bukan sebagai pelarian dari rasionalitas, melainkan sebagai sebuah keberanian untuk bersikap rendah hati di hadapan misteri yang melampaui kalkulasi manusia. Seperti yang diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik, iman yang sejati lahir dari disposisi hati yang tidak lagi mengandalkan kekuatannya sendiri:

"Dalam segala kasus, kurangnya iman pada kita mengungkapkan bahwa kita belum memiliki disposisi kerendahan hati ini: 'Tanpa Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa' (Yoh 15:5)" [1].

Bagi pikiran yang kritis, pengakuan "tanpa Engkau aku tidak dapat berbuat apa-apa" ini bukanlah kelemahan intelektual, melainkan puncak dari kejujuran rasional. Ini adalah momen ketika akal budi menyadari batasnya dan dengan sadar memilih untuk tidak menutup diri, melainkan terbuka terhadap Sumber yang lebih besar. Iman, dalam pengertian ini, menjadi jawaban yang paling masuk akal bagi jiwa yang telah menempuh perjalanan berpikir yang mendalam namun tetap merasa haus akan kebenaran yang utuh.

Santo Agustinus, seorang pemikir yang sangat brilian di zamannya, menggambarkan pergolakan batin ini ketika ia menyadari bahwa pencarian intelektualnya yang otonom justru membawanya pada kesia-siaan, sebelum akhirnya ia menemukan kedamaian dalam Tuhan:

"Aku pernah mencintai kesia-siaan dan mencari kebohongan... Betapa lama aku tidak mengetahui hal ini, aku mencintai kesia-siaan dan mencari kebohongan, dan karena itu aku mendengar dan gemetar, sebab kepada orang-orang seperti inilah firman itu ditujukan, yang mengingatkan aku akan diriku yang dulu. Sebab dalam bayang-bayang yang kuanggap sebagai kebenaran, tersimpan kesia-siaan dan kebohongan" [6].

Kegelisahan yang dirasakan oleh orang modern yang kritis itu sendiri bisa jadi adalah tanda bahwa akal budi mereka sedang bekerja dengan sangat baik—sedang memilah antara "bayang-bayang" dan "kebenaran", serta menolak untuk puas dengan jawaban-jawaban yang dangkal. Iman yang dipilih setelah proses kritis semacam ini bukanlah iman yang buta, melainkan iman yang telah dimurnikan oleh pertanyaan-pertanyaan yang jujur.

Apakah penjelasan ini membantu menjawab apa yang sedang kau cari mengenai pertemuan antara nalar dan iman?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  2. [2] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  3. [3] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  4. [4] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  5. [5] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  6. [6] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
← Kembali ke Faith