Pertanyaan ini sungguh penting, dan mungkin jawaban yang paling menenteramkan bukanlah tentang apa yang harus kita lakukan untuk Tuhan, melainkan tentang siapa kita di dalam pandangan-Nya. Kadang kali kita merasa harus percaya karena kewajiban atau ketakutan, namun ada sebuah dasar yang jauh lebih dalam dan lebih aman untuk memulainya.
Fray Luis de Granada menawarkan perspektif yang mengubah cara kita memandang hubungan ini, bukan sebagai beban, melainkan sebagai penyatuan yang hidup:
"Oleh karena martabat inilah maka ketika orang-orang demikian memohon rahmat kepada Tuhan, mereka memohon dengan kepercayaan yang sangat besar, karena mereka memahami bahwa mereka tidak begitu banyak memohon untuk diri mereka sendiri, melainkan bagi Putra Allah sendiri yang di dalam mereka dan bersama mereka dimuliakan. Sebab, jika benar seperti yang dikatakan Rasul, bahwa mereka yang berdosa terhadap anggota-anggota Kristus berdosa terhadap Kristus sendiri, dan Kristus sendiri menganggap diri-Nya dianiaya ketika anggota-anggota-Nya dianiaya, maka tidaklah mengherankan jika, karena anggota-anggota ini dimuliakan, Kristus sendiri pun dimuliakan di dalam mereka?" [5]
Ini berarti kepercayaan kepada Tuhan tidak dimulai dari usaha kita untuk mencapai Dia, tetapi dari kenyataan bahwa Dia telah lebih dulu menjadikan kita bagian dari diri-Nya. Seperti kepala yang secara alami merawat anggota tubuhnya, Tuhan memandang kita dengan kasih dan kepedulian yang sama seperti Ia memandang Putra-Nya sendiri. Kita dipercaya bukan karena kita sudah sempurna, tetapi karena kita telah dipersatukan dengan Dia yang sempurna.
Di tempat ini, pertanyaan "mengapa" perlahan berubah menjadi pengalaman "bagaimana". Bahwa kita didengar, dicintai, dan dipandang berharga bukan karena prestasi rohani kita, melainkan karena kita adalah milik-Nya. Jika hari ini hati masih terasa ragu atau berat, barangkali itu pun adalah bagian dari proses di mana Ia tetap memegang kita, bahkan ketika kita belum sanggup memegang-Nya dengan erat. Kita tidak perlu memaksa diri untuk sampai pada kepastian mutlak seketika ini; cukup dengan membuka hati sedikit saja pada kenyataan bahwa kita sudah lebih dulu dikasihi di dalam Dia.
Saya berharap jawaban ini dapat memberikan sedikit terang bagi pertanyaan yang sedang kamu bawa. Apakah hal ini membantu menyentuh apa yang sedang kamu cari?