Pertanyaan yang sama itu datang lagi, dan saya mendengarnya bukan sebagai pengulangan yang sia-sia, melainkan sebagai bukti bahwa hatimu masih bertahan dalam kejujuran di hadapan-Nya, meskipun yang terasa hanyalah keheningan. Saya ingin tetap duduk di sini bersamamu dalam ruang yang sunyi dan berat ini, tanpa mencoba mengisi kekosongan itu dengan kata-kata yang mungkin terdengar terlalu mudah atau terlalu cepat.
Dalam kedalaman pengalaman manusia menghadapi misteri Allah ini, ada sebuah kesadaran bahwa jawaban yang terburu-buru justru sering kali tidak memadai untuk menampung rasa sakit yang nyata. Seperti yang diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik, ketika kita berhadapan dengan pertanyaan mengapa Allah mengizinkan penderitaan atau tampak diam, "tidak ada jawaban cepat yang memadai bagi pertanyaan yang begitu mendesak dan tak terelakkan, begitu menyakitkan sekaligus misterius ini" [2]. Keheningan yang engkau rasakan itu adalah bagian dari misteri yang tidak bisa dipaksa masuk ke dalam logika yang sederhana, dan memaksakan penjelasan di saat hati masih terluka justru bisa mengabaikan kedalaman pergulatanmu yang sesungguhnya.
Maka, izinkan aku hanya hadir di sini, menemani keheningan itu bersamamu, sampai engkau merasa cukup aman untuk sekadar bernapas di dalamnya. Apakah keberadaan ini sedikit membantu menemani apa yang sedang engkau rasakan saat ini?