Aku ingin tinggal bersamamu sejenak di dalam keheningan ini, tanpa terburu-buru mencari jawaban atau menepis rasa sakit yang sedang kamu alami. Kehampaan yang terasa ketika kita justru paling membutuhkan Tuhan adalah sebuah luka yang nyata, dan aku tidak akan menganggapnya sebagai sekadar ujian yang harus segera diselesaikan. Di dalam ruang yang sunyi dan membingungkan ini, izinkan aku hanya duduk di sampingmu, mengakui bahwa ketiadaan suara itu memang berat, dan membiarkan kesedihanmu didengar sepenuhnya sebelum kita mencoba melangkah lebih jauh.
Ketika hatimu mulai siap untuk mencari pegangan di tengah kesunyian itu, mungkin ada penghiburan dalam mengetahui bahwa keheningan Tuhan tidak selalu berarti ketidakhadiran-Nya. Santo Thomas à Kempis pernah berdoa dari kedalaman pengalaman yang serupa, dan kata-katanya diterjemahkan demikian:
"Tuhan, apa kepercayaanku selain yang Kauliliki dalam hidup ini, atau penghiburanku yang lebih besar dari segala yang tampak di bawah langit? Bukankah Engkau, Tuhan Allahku, yang belas kasihnya tak terhingga? Kapan aku pernah merasa senang tanpa Engkau? Atau kapankah aku bisa menderita sementara Engkau hadir? Lebih baik aku miskin demi Engkau daripada kaya tanpa Engkau. Aku lebih memilih mengembara bersama-Mu di bumi daripada memiliki surga tanpa Engkau. Di mana Engkau berada, di situ surga; dan di situ kematian serta neraka, di mana Engkau tidak ada. Engkau adalah kerinduanku, dan karena itu aku perlu merintih, berseru, dan berdoa kepada-Mu. Pada akhirnya aku tidak dapat bersandar sepenuhnya pada siapa pun yang dapat menolongku dengan lebih tepat dalam kebutuhanku, kecuali hanya pada-Mu, Allahku. Engkaulah harapanku, kepercayaanku, penghiburku, dan yang paling setia dalam segala hal." [1]
Kata-kata ini tidak menghapus rasa sepi itu, tetapi mereka mengingatkan kita bahwa bahkan di dalam keheningan yang paling menyakitkan, Tuhan tetap menjadi satu-satunya tempat di mana hati yang hancur dapat bersandar. Dia tidak meminta kita untuk berpura-pura tidak terluka, melainkan mengundang kita untuk membawa seluruh rintihan dan seruan kita kepada-Nya, justru karena Dia adalah harapan dan penghibur yang paling setia.
Santo Agustinus juga bergulat dengan pencarian akan Tuhan di tengah kegelisahan batin, dan ia menemukan bahwa jawaban Tuhan sering kali ditemukan bukan di luar diri yang bising, melainkan di kedalaman hati yang tenang. Ia menulis:
"Aku bertanya kepada bumi, dan ia menjawab, 'Aku bukan Dia.' Dan segala sesuatu yang ada di atasnya mengakui hal yang sama. Aku bertanya kepada laut dan samudra serta makhluk-makhluk yang melata di dalamnya, dan mereka menjawab, 'Kami bukan Allahmu; carilah di atas kami.' Aku bertanya kepada angin yang berhembus, dan seluruh udara beserta penghuninya berkata, 'Anaximenes keliru; aku bukan Allah.' Aku bertanya kepada langit, matahari, bulan, dan bintang-bintang: 'Kami juga bukan Allah yang kaucari,' kata mereka. Dan aku berkata kepada semua yang mengelilingi pintu dagingku, 'Katakanlah kepadaku tentang Allahku, karena kalian bukan Dia, katakanlah sesuatu tentang-Nya kepada-ku,' dan mereka berseru dengan suara yang lantang, 'Dialah yang menjadikan kami.' Pertanyaanku adalah perhatiaku, dan jawaban mereka adalah wujud mereka. Lalu aku mengarahkan diriku kepada diriku sendiri dan berkata kepada diriku, 'Siapakah engkau?' Dan aku menjawab, 'Seorang manusia.' Dan lihatlah, tubuh dan jiwa hadir bagiku, satu di luar dan yang lain di dalam. Dari manakah aku harus mencari Allahku, yang telah kucari melalui tubuh dari bumi sampai ke langit, sejauh aku dapat mengutus sinar mataku sebagai pembawa pesan? Tetapi yang di dalam lebih baik. Karena kepadanya semua pembawa pesan jasmani melaporkan, sementara ia memimpin dan menghakimi jawaban-jawaban langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya, yang berkata, 'Kami bukan Allah,' dan, 'Dialah yang menjadikan kami.' Manusia batin mengenal hal-hal ini melalui pelayanan manusia lahir; aku yang di dalam mengenal hal-hal ini, aku, akulah jiwa yang melalui indra tubuhku menanyakan keseluruhan dunia tentang Allahku, dan ia menjawab kepadaku, 'Bukan aku, tetapi Dialah yang menjadikan aku.'" [4]
Mungkin keheningan yang kamu rasakan saat ini adalah undangan untuk berpaling dari pencarian di luar yang serba bising, menuju ke dalam hati di mana Tuhan telah menjadikanmu dan tinggal di sana, bahkan ketika Ia tidak terdengar. Ini bukan tentang menyalahkan dirimu karena merasa Dia jauh, melainkan tentang perlahan-lahan belajar mendengarkan dengan cara yang baru, dengan kesabaran yang lembut terhadap dirimu sendiri.
Apakah kehadiran dan kata-kata ini bisa sedikit menemani hatimu yang sedang mencari di tengah keheningan ini?