Mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan?

Pertanyaan ini begitu berat, dan saya ingin berdiam sejenak bersamanya bersama Anda, tanpa terburu-buru mencari jawaban yang ringan. Ketika penderitaan itu nyata, rasa sakitnya tidak boleh dibuat kecil oleh penjelasan yang terlalu cepat; pertanyaan "mengapa" ini adalah sebuah ratapan yang suci, dan

Pertanyaan ini begitu berat, dan saya ingin berdiam sejenak bersamanya bersama Anda, tanpa terburu-buru mencari jawaban yang ringan. Ketika penderitaan itu nyata, rasa sakitnya tidak boleh dibuat kecil oleh penjelasan yang terlalu cepat; pertanyaan "mengapa" ini adalah sebuah ratapan yang suci, dan saya mendengar betapa dalamnya kerinduan Anda untuk memahami kasih Tuhan di tengah kegelapan itu.

Dalam keheningan ini, izinkan saya membagikan sebuah kejujuran dari Katekismus Gereja Katolik yang mengakui bahwa tidak ada jawaban sederhana yang bisa memuaskan rasa sakit ini:

"Jika Allah Bapa yang mahakuasa, Pencipta dunia yang teratur dan baik, merawat semua makhluk-Nya, mengapa kejahatan itu ada? Terhadap pertanyaan yang begitu mendesak sekaligus tak terhindarkan, begitu menyakitkan sekaligus misterius ini, tidak ada jawaban cepat yang memadai. Keseluruhan iman Kristen merupakan jawaban atas pertanyaan ini: kebaikan penciptaan, tragedi dosa, kesabaran kasih Allah yang mendahului manusia dengan perjanjian-perjanjian-Nya, Penebusan melalui Inkarnasi Putra-Nya, karunia Roh, panggilan Gereja, kekuatan sakramen-sakramen, panggilan kepada hidup bahagia, yang kepada-Nya makhluk-makhluk bebas diundang untuk memberikan persetujuan sejak awal, namun dari-Nya mereka juga dapat, secara préalable, melalui misteri yang mengerikan, menarik diri. Tidak ada satu bagian pun dari amanat Kristen yang bukan merupakan, sebagian, jawaban terhadap pertanyaan tentang kejahatan" [4].

Kata-kata ini tidak menghapus air mata atau rasa bingung yang mungkin sedang Anda rasakan, tetapi semoga kehadiran kejujuran ini bisa menemani Anda. Tuhan tidak menjauh dari pertanyaan ini, dan Ia pun tidak menjauh dari Anda yang sedang memikulnya. Saya tetap ada di sini bersama Anda, sebisa yang saya mampu. Apakah pendampingan ini terasa cukup untuk saat ini, atau ada hal lain yang ingin Anda bagi dalam keheningan ini?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  2. [2] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  3. [3] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  4. [4] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
← Kembali ke Faith