Aku merasa ada yang kurang dalam hidupku. Mungkinkah itu Tuhan?

Rasa kurang yang kau alami itu bisa jadi justru merupakan bisikan yang jujur dari hatimu yang merindukan kepenuhan yang hanya bisa diberikan oleh Sang Pencipta. Kehampaan itu bukanlah tanda bahwa Tuhan menjauh, melainkan sering kali merupakan cara-Nya memanggil kita kembali kepada sumber segala keba

Rasa kurang yang kau alami itu bisa jadi justru merupakan bisikan yang jujur dari hatimu yang merindukan kepenuhan yang hanya bisa diberikan oleh Sang Pencipta. Kehampaan itu bukanlah tanda bahwa Tuhan menjauh, melainkan sering kali merupakan cara-Nya memanggil kita kembali kepada sumber segala kebaikan.

Thomas à Kempis mengungkapkan pengalaman manusiawi ini dengan sangat indah dalam doanya: "Tuhan,Engkaulah yang kuinginkan, dan oleh karena itulah aku harus mengeluh, berseru, dan berdoa meminta-Mu. Akhirnya, aku tidak dapat beristirahat dengan sempurna pada siapa pun yang dapat menolongku dalam kebutuhanku dengan lebih tepat waktu, kecuali hanya pada-Mu, Allahku. Engkaulah harapanku, dan kepercayaanku, dan penghiburku, dan yang paling setia dalam segala hal" [1]. Rasa kurang itu, jika diarahkan dengan benar, menjadi doa itu sendiri—sebuah seruan agar Dia yang menciptakan hati kita datang dan memenuhinya.

Mungkin juga rasa ini muncul karena kita menyadari bahwa tanpa Dia, upaya kita sendiri tidak akan pernah cukup. Seperti yang diajarkan dalam Kitab Suci: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, karena di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" [3]. Kekurangan yang kita rasakan adalah pengingat yang lembut bahwa kita adalah ranting yang membutuhkan Pokok Anggur; rasa itu adalah undangan untuk tinggal di dalam Dia, bukan sebuah hukuman.

Bahkan ketika kita belum mengerti sepenuhnya, harapan yang lahir dari iman bekerja di dalam kita. "Dari iman yang tak tergoyahkan ini muncullah harapan yang membangkitkan setiap orang melalui ketujuh permohonan. Permohonan-permohonan ini mengungkapkan keluh kesah masa kini, waktu kesabaran dan penantian ini, yang selama itu 'belum dinyatakan apa yang akan kita jadi'" [4]. Rasa kurang itu adalah bagian dari masa penantian yang suci, di mana Tuhan sedang membentuk hati kita untuk menampung kepenuhan-Nya.

Apakah penjelasan ini menolongmu melihat rasa kurang itu sebagai sebuah sapaan yang penuh harap dari Tuhan?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  2. [2] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  3. [3] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  4. [4] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
← Kembali ke Faith