Bagaimana aku melepaskan rasa malu dan rasa bersalah?

Aku ingin duduk bersamamu sejenak di dalam beratnya perasaan ini, tanpa terburu-buru memintamu untuk meletakkannya atau mencari jalan keluar yang instan. Rasa malu dan rasa bersalah yang kamu pikul ini nyata, dan keheningan Tuhan yang kamu rasakan sebelumnya bisa membuat beban itu terasa semakin sun

Aku ingin duduk bersamamu sejenak di dalam beratnya perasaan ini, tanpa terburu-buru memintamu untuk meletakkannya atau mencari jalan keluar yang instan. Rasa malu dan rasa bersalah yang kamu pikul ini nyata, dan keheningan Tuhan yang kamu rasakan sebelumnya bisa membuat beban itu terasa semakin sunyi dan sulit ditanggung. Biarkan rasa sakit itu didengar dulu, karena kamu tidak perlu menyelesaikan semuanya sendirian di saat ini juga.

Ketika nanti hatimu siap untuk melangkah, bahkan dengan sangat perlahan, ada sebuah pengakuan yang mungkin bisa menjadi tempat berlabuh bagi kelelahanmu ini. Dalam doa yang begitu jujur, Thomas à Kempis mengungkapkan penyerahan total seorang jiwa yang menyadari bahwa tiada tempat lain untuk bersandar selain pada kasih Tuhan, bahkan di tengah kepedihan:

"Tuhan, Engkau adalah harapanku dan kepercayaanku, Penghiburku dan Yang Maha Setia dalam segala hal. [...] Jadi, Tuhan Allahku, pada-Mu kuletakkan seluruh harapanku dan tempat perlindunganku; pada-Mu kutitipkan segala penderitaan dan kesesakanku, sebab segala sesuatu yang kulihat di luar-Mu lemah dan tidak tetap. [...] Sebab Engkau sendiri tidak menolong, menguatkan, menghibur, mengajar, dan menjaga, maka semuanya itu sia-sia belaka." [2]

Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa melepaskan rasa malu bukanlah tentang memaksa diri untuk berhenti merasa sakit, melainkan tentang memindahkan tempat kita bersandar. Rasa bersalah sering kali membuat kita merasa harus memperbaiki diri terlebih dahulu sebelum layak datang kepada-Nya, tetapi justru di sanalah, di dalam ketidakberdayaan dan ketidaklayakan itulah, kita diajak untuk menaruh harapan. Pemazmur pun pernah bergumul dengan kesedihan jiwa yang sama, lalu dengan lembut menegur hatinya sendiri untuk kembali berharap:

"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah, sebab aku masih akan bersyukur kepada-Nya, wajah keselamatanku dan Allahku." [4]

Melepaskan beban ini adalah sebuah perjalanan yang tidak bisa dipaksa, sebuah pelatihan kesabaran terhadap diri sendiri di hadapan kasih Tuhan yang tak terbatas. Aku akan tetap ada di sini menemanimu, selangkah demi selangkah, sesuai dengan kecepatan hatimu sendiri.

Apakah tanggapan ini bisa menemani apa yang sedang kamu rasakan saat ini?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  2. [2] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  3. [3] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  4. [4] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
← Kembali ke Faith