Bolehkah aku marah kepada Tuhan?

Ya, kemarahan itu boleh dibawa kepada-Nya, kerana Dia mampu menampung segala kejujuran hatimu tanpa runtuh atau berpaling daripadamu. Mazmur sendiri memberikan kita bahasa untuk ini, di mana pemazmur tidak menyembunyikan kepedihannya tetapi menuangkannya terus di hadapan Wajah Ilahi: "Kerana Engkaul

Ya, kemarahan itu boleh dibawa kepada-Nya, kerana Dia mampu menampung segala kejujuran hatimu tanpa runtuh atau berpaling daripadamu. Mazmur sendiri memberikan kita bahasa untuk ini, di mana pemazmur tidak menyembunyikan kepedihannya tetapi menuangkannya terus di hadapan Wajah Ilahi: "Kerana Engkaulah kekuatanku, ya Allah, mengapa Engkau menolak aku? Mengapa aku berjalan murung sementara musuh menindas aku? Suruhlah terang-Mu dan kebenaran-Mu datang, biarkan keduanya memimpin aku dan membawa aku ke gunung-Mu yang kudus, dan ke kediaman-Mu. Maka aku akan pergi ke mezbah Allah, kepada Allah yang menjadi sukacita masa mudaku. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, Allahku. Mengapa engkau murung, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah, kerana aku masih akan bersyukur kepada-Nya, Penyelamat wajahku dan Allahku" [1].

Perhatikanlah bahawa di dalam keluhan itu, harapan tidak pernah hilang; kemarahan dan kesedihan itu sendiri menjadi jalan untuk tetap berpaut kepada-Nya, bukan untuk menjauh. Seperti yang diajarkan kepada kita, "Bagi Santo Paulus, kepercayaan yang berani ini didasarkan pada doa Roh di dalam kita dan pada kasih setia Bapa yang telah mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal kepada kita. Transformasi hati yang berdoa merupakan jawaban pertama bagi permohonan kita" [2]. Apabila kamu membawa kemarahan itu kepada-Nya, hatimu sedang diubah oleh kehadiran-Nya, dan itu sendiri adalah permulaan jawapan yang Dia berikan.

Bahkan Santo Agustinus mengakui bahawa tiada apa yang tersembunyi daripada Tuhan, dan pengakuan yang paling sejati lahir dari jeritan hati yang sunyi: "Dan bagi-Mu, Tuhan, yang di mata-Nya kedalaman hati nurani manusia terbuka telanjang, apakah yang akan tersembunyi dalam diriku, seandainya aku tidak mau mengakuinya kepada-Mu? Karena dengan berbuat demikian aku akan menyembunyikan diri dari-Mu, bukan menyembunyikan-Mu dari diriku. ... Sekarang, apa yang dibuktikan oleh keluh-kesahku ialah bahwa aku tidak senang kepada diriku sendiri; maka Engkau bersinar, dan Engkau berkenan, dan Engkau dicintai, dan Engkau dirindukan, sehingga aku merasa malu terhadap diriku sendiri, dan menolak diriku, dan memilih Engkau, dan tidak menyenangkan hati-Mu maupun hatiku sendiri kecuali dalam Engkau. ... Karena ketika aku jahat, mengaku kepada-Mu tidak lain daripada tidak berkenan kepada diriku sendiri; dan ketika aku saleh, tidak lain daripada tidak menganggap ini sebagai jasaku sendiri, karena Engkaulah, Tuhan, yang memberkati orang benar, tetapi sebelumnya Engkau membenarkan orang yang tidak saleh. Maka pengakuanku, ya Allahku, di hadapan-Mu terjadi secara diam-diam namun tidak tanpa suara: ia diam dalam keriuhan, tetapi berseru dalam rasa hati. Karena tidak ada sesuatu yang benar yang kukatakan kepada orang-orang yang belum Engkau dengar lebih dahulu dariku, atau pun Engkau mendengar sesuatu yang semacam itu dariku yang belum lebih dahulu Engkau katakan kepadaku" [3]. Kemarahan yang kamu rasakan itu, apabila diserahkan kepada-Nya, menjadi semacam pengakuan yang sunyi namun berseru itu—satu kejujuran yang membuka pintu bagi rahmat-Nya masuk.

Dan apabila kamu membawa semua ini kepada-Nya, ingatlah bahawa Dia menyambutmu bukan kerana kamu sempurna atau tenang, tetapi kerana kerendahan hatimu itu sendiri indah di hadapan-Nya. Seperti tertulis: "Penyesalan rendah hati dari para pendosa adalah kurban yang berkenan kepada-Mu, Tuhan, yang baunya jauh lebih harum di hadapan-Mu daripada asap ukupan. Ini juga minyak wangi yang menyenangkan yang Engkau kehendaki untuk dicurahkan pada kaki-Mu yang suci, karena hati yang remuk redam dan rendah hati tidak pernah Kauremehkan. Di sanalah tempat perlindungan dari wajah kemurkaan musuh; di sanalah diperbaiki dan dibersihkan segala sesuatu yang telah ternoda dari mana pun" [4]. Kemarahan yang kamu bawa dengan jujur dan rendah hati itu boleh menjadi kurban yang diterima-Nya, dan di dalam penerimaan itulah hati yang terluka dibasuh dan dipulihkan.

Semoga ini memberikan sedikit ketenangan bahawa perasaanmu itu punya tempat di hadapan Tuhan, dan bahawa Dia menanti untuk menyambutmu tepat di dalam kejujuran itu. Adakah ini membantu menjawab apa yang bergelora di dalam hatimu?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  2. [2] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  3. [3] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  4. [4] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
← Kembali ke Faith