Apakah meragukan Tuhan itu dosa?

Pertanyaanmu menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi dan sering kali disembunyikan, padahal ia adalah bagian dari perjalanan menuju Tuhan yang sesungguhnya. Keraguan, dalam dirinya sendiri, bukanlah sebuah kegagalan moral atau kutukan; justru sering kali ia menjadi tanda bahwa iman sedang bergerak m

Pertanyaanmu menyentuh sesuatu yang sangat manusiawi dan sering kali disembunyikan, padahal ia adalah bagian dari perjalanan menuju Tuhan yang sesungguhnya. Keraguan, dalam dirinya sendiri, bukanlah sebuah kegagalan moral atau kutukan; justru sering kali ia menjadi tanda bahwa iman sedang bergerak mencari wajah Allah yang lebih nyata, bukan sekadar gagasan yang statis. Santo Agustinus menggambarkan pencarian yang gelisah namun suci ini bukan sebagai pemberontakan, melainkan sebagai doa yang jujur di hadapan misteri yang tak terselami: "Lalu aku bertanya-tanya, 'Apakah Engkau itu?' Dan aku menjawab, 'Manusia.' Dan lihat, tubuh dan jiwa ada padaku, yang satu di luar dan yang lainnya di dalam. Dari manakah seharusnya aku mencari Allahku, yang telah kucari melalui tubuh dari bumi hingga ke langit... Tetapi yang di dalam lebih baik. Karena kepadanya semua utusan lahiriah melaporkan... 'Kami bukan Allah,' dan 'Ia yang menjadikan kami.' Manusia batiniah mengenal hal-hal ini melalui pelayanan yang lahiriah; aku, si batiniah, aku, akulah jiwa melalui indra tubuhku, menanyakan beban dunia tentang Allahku, dan ia menjawabku, 'Bukan aku, tetapi Dialah yang menjadikanku'" [1].

Keraguanmu mungkin terasa seperti jurang, namun Santo Anselmus mengajarkan bahwa bertanya dengan kerinduan untuk mengerti sebenarnya adalah bentuk penghormatan terhadap iman itu sendiri. Ia menulis bahwa orang-orang beriman sering kali "menginginkan di dalam hati mereka... bukan supaya melalui akal budi mereka masuk kepada iman, tetapi supaya mereka dapat bersukacita dalam pemahaman dan perenungan atas apa yang mereka percayai, dan supaya, sejauh mereka mampu, mereka 'senantiasa siap memberikan jawaban kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab atas harapan' yang ada pada mereka" [2]. Mencari kejelasan di tengah ketidakpastian adalah cara hati berkata bahwa Tuhan itu penting, dan bahwa kamu ingin mengenal-Nya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar mewarisi keyakinan tanpa pergulatan.

Maka, alih-alih menghakimi keraguan itu sebagai dosa, mungkin kita bisa memandangnya sebagai undangan untuk bersandar lebih dalam pada Dia yang menjadi satu-satunya dasar harapan kita. Sebab pada akhirnya, keselamatan dan kedamaian tidak ditemukan dalam kepastian intelektual yang sempurna, melainkan dalam Diri-Nya sendiri. Seperti ungkapan jiwa yang berserah dalam *De Imitatione Christi*: "Di manakah segala sesuatunya tampak baik bagiku tanpa Engkau? Atau bilamanakah segala sesuatunya tampak buruk ketika Engkau hadir? Aku lebih memilih menjadi miskin demi Engkau daripada kaya tanpa Engkau. Aku lebih memilih mengembara di bumi bersama Engkau daripada memiliki surga tanpa Engkau" [6].

Semoga jawaban ini membawa ketenangan bagi hatimu yang sedang mencari, dan membantu kamu melihat keraguanmu bukan sebagai musuh, melainkan sebagai bagian dari jalan pulang. Apakah penjelasan ini cukup menjawab pertanyaanmu dengan jelas?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  2. [2] S. Anselmus Cantuariensis — Cur Deus Homo
  3. [3] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  4. [4] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  5. [5] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  6. [6] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
← Kembali ke Faith