Bukankah percaya kepada Tuhan itu hanya kelemahan, atau bahkan kebodohan?

Pertanyaan ini menyentuh salah satu paradoks terbesar dalam iman kita. Justru di saat dunia melihat penyerahan diri sebagai kelemahan, Kitab Suci dan para dokter Gereja menunjukkan bahwa pengakuan atas ketergantungan kita kepada Tuhan adalah bentuk realisme yang paling jujur dan berani, bukan kebodo

Pertanyaan ini menyentuh salah satu paradoks terbesar dalam iman kita. Justru di saat dunia melihat penyerahan diri sebagai kelemahan, Kitab Suci dan para dokter Gereja menunjukkan bahwa pengakuan atas ketergantungan kita kepada Tuhan adalah bentuk realisme yang paling jujur dan berani, bukan kebodohan.

Yesus sendiri mengungkapkan kebenaran fundamental ini dengan sangat jelas ketika Ia bersabda:

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." [6]

Mengakui bahwa "di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" bukanlah pernyataan tentang ketidakberdayaan yang memalukan, melainkan pengakuan atas sumber kehidupan yang sesungguhnya. Sama seperti ranting yang tidak disebut bodoh karena bergantung pada pokok anggur, melainkan justru menemukan fungsinya yang sejati di sana, demikian pula manusia menemukan kekuatan authentiknya bukan dalam kemandirian yang semu, tetapi dalam keterhubungan dengan Sang Pencipta. Kelemahan yang kita rasakan seringkali hanyalah kesadaran bahwa kita bukan pusat dari segala sesuatu, dan kesadaran itu adalah awal dari kebijaksanaan.

Santo Anselmus dari Canterbury malah mengajak kita untuk memandang pertanyaanmu ini sebagai undangan bagi akal budi, bukan sebagai tanda kebodohan. Ia menulis dengan indah tentang hubungan antara iman dan pemahaman:

"Sebagaimana tatanan yang benar menuntut agar kita pertama-tama mempercayai kedalaman iman Kristen sebelum menganggapnya pantas untuk didiskusikan dengan akal budi, demikian pula tampaknya suatu kelalaian bagi saya jika, setelah kita diteguhkan dalam iman, kita tidak berusaha memahami apa yang kita percayai." [2]

Bagi Anselmus, iman bukanlah musuh dari nalar, melainkan fondasi yang memungkinkannya berkembang. Justru orang yang menolak untuk memahami apa yang ia percayai, atau yang menganggap tidak perlu mencari kepahaman, itulah yang ia sebut kurang bijaksana. Jadi, keraguan atau pertanyaan yang engkau bawa ini, jika diarahkan untuk mencari kebenaran, bukanlah kebodohan; itu adalah bagian dari upaya suci untuk memahami misteri yang jauh melampaui kita, namun tetap dapat didekati dengan cinta dan akal budi.

Maka, mungkin yang kita takutkan sebagai "kelemahan" sebenarnya adalah pintu menuju kekuatan yang tidak bisa kita ciptakan sendiri. Apakah penjelasan ini membantu menjernihkan pandanganmu mengenai hubungan antara iman, nalar, dan kekuatan sejati?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  2. [2] S. Anselmus Cantuariensis — Cur Deus Homo
  3. [3] S. Anselmus Cantuariensis — Cur Deus Homo
  4. [4] S. Anselmus Cantuariensis — Cur Deus Homo
  5. [5] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  6. [6] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
← Kembali ke Faith