Ketidakmampuan untuk menemukan kata-kata dalam doa justru bisa menjadi awal dari sebuah kejujuran yang sangat indah di hadapan Tuhan. Ketika kita merasa tidak tahu caranya, sering kali itu adalah undangan untuk berhenti mengandalkan kepintaran kita sendiri dan mulai bersandar sepenuhnya pada kehadiran-Nya.
Thomas à Kempis mengingatkan kita dengan lembut bahwa Tuhan tidak menuntut doa yang sempurna dari kita, melainkan kehadiran hati yang percaya, terutama ketika kita merasa kosong:
"Anak-Ku, Akulah Tuhan yang menghibur pada hari penderitaan. Datanglah kepada-Ku ketika engkau merasa tidak enak. … Ketika engkau mengira dirimu jauh dari-Ku, sering kali Aku justru lebih dekat. Ketika engkau mengira dirimu hilang seluruhnya, saat itulah sering kali kesempatan untuk memperoleh pahala semakin dekat. Tidak semuanya hilang ketika sesuatu terjadi berlawanan dengan keinginanmu." [1]
Mungkin cara berdoa yang paling tepat saat ini bukanlah menyusun kalimat yang rapi, melainkan membawa kebingungan dan rasa kehilangan kata-kata itu sendiri kepada-Nya. Mazmur mengajarkan kita bahwa bahkan pertanyaan dan keluhan yang jujur pun adalah bentuk doa yang didengar Allah:
"Sebab Engkaulah Allah, kekuatanku: mengapa Engkau menolak aku? Dan mengapa aku berjalan dengan sedih, sementara musuh menyesakkan aku? … Mengapa engkau murung, hai jiwaku, dan mengapa engkau gemetar dalam diriku? Berharaplah kepada Allah, sebab aku masih akan bersyukur kepada-Nya, penolong wajahku dan Allahku." [2]
Doa tidak harus selalu terasa manis atau terarah; terkadang doa hanyalah bertahan dalam harapan, seperti yang juga diungkapkan dalam Mazmur:
"Sampai kapan, ya Tuhan? Akankah Engkau melupakan aku selama-lamanya? … Perhatikanlah dan jawablah aku, ya Tuhan Allahku. Terangilah mataku, supaya jangan aku tertidur dalam maut. … Tetapi aku telah bermurah hati kepada-Mu; hatiku bersukacita karena keselamatan-Mu. Aku akan bernyanyi bagi Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku." [3]
Ketika engkau tidak tahu caranya, izinkan ketidakberdayaan itu menjadi doamu. Tuhan tidak memerlukan kata-kata yang fasih; Ia hanya menginginkan hatimu yang apa adanya, bahkan ketika hati itu merasa hampa. Apakah penjelasan ini membantu memberikan sedikit cahaya bagi kebingunganmu dalam berdoa?