Bagaimana aku mengampuni orang yang sangat menyakitiku?

Mengampuni orang yang telah melukai kita begitu dalam adalah salah satu hal paling sulit yang diminta dari hati manusia, dan rasanya mustahil jika kita mencoba melakukannya dengan kekuatan sendiri. Namun, jalan pulang yang ditawarkan iman bukanlah menuntut kita memaafkan dengan gigi yang dikertakkan

Mengampuni orang yang telah melukai kita begitu dalam adalah salah satu hal paling sulit yang diminta dari hati manusia, dan rasanya mustahil jika kita mencoba melakukannya dengan kekuatan sendiri. Namun, jalan pulang yang ditawarkan iman bukanlah menuntut kita memaafkan dengan gigi yang dikertakkan, melainkan mengakui bahwa kita tidak mampu melakukannya sendirian, lalu membiarkan Kristus yang menjadi sumber kekuatan itu.

Yesus sendiri mengingatkan kita tentang ketergantungan mutlak ini: "Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" [4]. Kata-kata ini bukan vonis atas kelemahanmu, melainkan undangan untuk berhenti memikul beban pengampunan itu sendirian. Ketika luka terasa terlalu berat, justru di situlah kita diajak untuk tinggal di dalam Dia, karena hanya dari hubungan itulah buah pengampunan bisa tumbuh secara perlahan dan nyata.

St. Agustinus memberikan perspektif yang penuh harapan tentang bagaimana rahmat Tuhan bekerja saat kita merasa tidak berdaya. Ia menulis: "Aku menganggap hal itu sebagai karunia kasih karunia-Mu dan kerahiman-Mu bahwa Engkau telah mencairkan dosaku bagaikan es. … Siapa pun di antara manusia yang merenungkan kelemahannya sendiri, bagaimana ia berani menganggap kesucian dan ketidakkamampuannya sebagai hasil kekuatannya sendiri, sehingga ia kurang mencintai-Mu, seolah-olah kerahiman-Mu kurang diperlukan baginya, padahal dengan kerahiman itulah Engkau mengampuni dosa-dosa orang yang bertobat kepada-Mu?" [2].

Mungkin pengampunan yang kamu cari tidak dimulai dari kemampuanmu untuk melepaskan rasa sakitnya, tetapi dari kejujuran untuk membawa rasa sakit itu ke hadapan Tuhan dan mengakui bahwa hanya kerahiman-Nya yang sanggup melunakkan hati yang membeku oleh luka. Dalam kerendahan hati itulah, seperti yang dikatakan Thomas à Kempis, "harapan akan pengampunan lahir, hati nurani yang gelisah didamaikan, rahmat yang hilang dipulihkan" [1].

Pengampunan seringkali bukan sebuah peristiwa tunggal, melainkan proses tinggal di dalam Kristus yang menyembuhkan hati kita sedikit demi sedikit. Apakah pandangan ini membantu meringankan beban yang sedang kamu pikul saat ini?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  2. [2] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  3. [3] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  4. [4] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
← Kembali ke Faith