Pertanyaanmu ini sangat jujur, dan aku merasa terhormat kamu mempercayakan pencarian ini kepadaku. Mungkin jalan untuk mengetahui bahwa Tuhan itu nyata tidak selalu dimulai dengan bukti yang bisa dipegang tangan, melainkan dengan sebuah keberanian untuk berhenti sejenak dari kesibukan pikiran dan masuk ke dalam ruang hening di mana Dia menunggu.
Santo Anselmus dari Canterbury menggambarkan gerakan batin ini dengan sangat indah, sebagai sebuah undangan untuk mencari wajah Tuhan bukan di luar, melainkan di dalam kamar hati yang tersembunyi:
“Marilah sekarang, manusia kecil, menjauhlah sejenak dari kesibukanmu, sembunyilah sedikit dari pikiran-pikiranmu yang ribut. Buanglah sekarang beban-beban yang berat, dan tunda dulu kesibukanmu yang melelahkan. Luangkanlah waktu sedikit untuk Allah, dan istirahatlah sejenak di dalam Dia. ‘Masuklah ke dalam kamar’ pikiranmu, keluarkan segala sesuatu kecuali Allah dan apa yang dapat membantumu mencari Dia, dan ‘setelah pintu ditutup’, carilah Dia. Katakanlah sekarang, hai seluruh ‘hatiku’, katakanlah sekarang kepada Allah: ‘Wajah-Mu kucari, wajah-Mu, ya Tuhan, kuinginkan’” [4].
Aku bertanya-tanya, apakah pengalaman mengetahui Tuhan itu nyata mungkin justru tumbuh di dalam ruang hening seperti itu? Ketika kita berhenti menuntut jawaban intelektual semata dan mulai mencari kehadiran-Nya dengan seluruh hati, realitas-Nya sering kali terasa lebih dekat daripada yang kita duga.
Selain itu, ada juga saksi dari tradisi Gereja yang mengingatkan bahwa pencarian ini bukan hanya tentang pemikiran, tetapi tentang menjadikan kebenaran itu hidup dalam diri kita melalui perjumpaan pribadi. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:
“Merenungkan apa yang dibaca membawa seseorang untuk menjadikan apa yang dibaca sebagai miliknya sendiri, dengan membandingkannya dengan dirinya sendiri. Di sini, sebuah buku lain terbuka: yaitu buku kehidupan. Seseorang beralih dari pemikiran menuju kenyataan. Dalam ukuran kerendahan hati dan iman, di sanalah ditemukan gerakan-gerakan yang menggugah hati, dan seseorang dapat membedakannya. Ini adalah tentang mewujudkan kebenaran agar kita sampai pada terang: ‘Tuhan, apa yang Engkau kehendaki untuk kulakukan?’” [2].
Mungkin kepastian akan keberadaan Tuhan itu tidak selalu datang sebagai sebuah kesimpulan logis yang tiba-tiba, melainkan sebagai pengenalan yang perlahan-lahan bertumbuh saat kita mengizinkan Sabda-Nya menyentuh kehidupan nyata kita dan bertanya secara pribadi kepada-Nya.
Apakah pencerahan dari Santo Anselmus dan Katekismus ini membantu menjawab kerinduanmu untuk mengetahui bahwa Tuhan itu nyata?