Bagaimana aku menemukan makna ketika hidup terasa hampa?

Rasa hampa yang kau rasakan itu nyata, dan aku ingin duduk bersamamu di dalam keheningan itu sejenak, tanpa terburu-buru mencari jawaban atau memaksakan penghiburan yang mungkin terasa jauh saat ini. Kadang-kadang, kehampaan bukanlah tanda ketiadaan Tuhan, melainkan ruang di mana hati sedang dilucut

Rasa hampa yang kau rasakan itu nyata, dan aku ingin duduk bersamamu di dalam keheningan itu sejenak, tanpa terburu-buru mencari jawaban atau memaksakan penghiburan yang mungkin terasa jauh saat ini. Kadang-kadang, kehampaan bukanlah tanda ketiadaan Tuhan, melainkan ruang di mana hati sedang dilucuti dari segala sandaran yang fana, dan di situlah kita sering kali paling jujur tentang siapa diri kita sebenarnya.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin kita tidak langsung menemukan "makna" sebagai sebuah konsep yang utuh, tetapi kita bisa mulai dengan mengakui bahwa pencarian itu sendiri adalah bentuk doa yang sunyi. Santo Agustinus menggambarkan pergulatan batin yang serupa ketika ia merasakan beratnya hati yang tersesat, dan ia menulis:

"Sampai kapan, hai anak-anak manusia, hati kalian begitu berat? Mengapa kalian mencintai kesia-siaan dan mencari dusta? ... Sebab aku telah mencintai kesia-siaan dan mencari dusta, dan Engkau, Tuhan, telah memuliakan orang kudus-Mu... Dan aku mendengar dan gemetar, karena kepada orang-orang seperti itulah kata-kata itu ditujukan, dan aku teringat bahwa dahulu aku pernah menjadi seperti mereka. Sebab dalam khayalan-khayalan yang kuanggap sebagai kebenaran, tersimpan kesia-siaan dan dusta. Dan aku berseru dengan keras dan pedih dalam kesedihan mengingat hal itu" [4].

Kegelisahan dan rasa hampa yang kau alami mungkin adalah gema dari seruan itu — tanda bahwa hatimu sedang menolak untuk berpuas diri pada hal-hal yang sementara, dan sedang merindukan sesuatu yang lebih dalam, meskipun rasanya menyakitkan dan membingungkan.

Di tengah kehampaan ini, kita juga diingatkan bahwa makna tidak selalu datang sebagai perasaan puas atau kebahagiaan yang tampak, melainkan sering kali tersembunyi dalam ketulusan kita menghadap Tuhan tanpa topeng. Nabi Yeremia pun pernah merasakan keterasingan dan kepahitan yang mendalam dalam panggilannya, namun di sanalah ia menemukan bahwa Sabda Tuhan menjadi satu-satunya pegangan yang tahan uji:

"Celakalah aku, ibu! Mengapa engkau melahirkan aku, seorang yang penuh pertengkaran dan perselisihan di seluruh negeri? ... Engkau tahu, ya Tuhan, ingatlah aku dan perhatikanlah aku... Apabila perkataan-perkataan-Mu Kujumpai, aku memakannya; perkataan-Mu itu bagiku suka cita dan kegembiraan di dalam hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atas diriku, ya Tuhan, Allah semesta alam. ... Maka sebab itu beginilah firman Tuhan: Jika engkau mau bertobat, Aku akan memulihkan engkau, dan engkau akan berdiri di hadapan-Ku; jika engkau dapat memisahkan yang berharga dari yang tidak berharga, engkau akan menjadi seperti mulut-Ku sendiri" [2].

Makna di saat hampa mungkin belum terlihat sebagai cahaya yang terang, tetapi bisa dimulai dari keberanian untuk tetap "memakan" kebenaran itu sedikit demi sedikit, bahkan ketika rasa itu belum kembali. Kehampaanmu dihormati, dan kehadiranmu di sini, dengan segala kejujurannya, sudah merupakan langkah menuju pemulihan yang sedang dikerjakan Tuhan diam-diam di dalam dirimu.

Apakah renungan ini bisa menemanimu di tempat engkau berada saat ini, atau setidaknya memberikan sedikit ruang bagi hatimu untuk bernapas?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  2. [2] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  3. [3] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  4. [4] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
← Kembali ke Faith