Bagaimana aku menghadapi kedukaan setelah kehilangan orang yang kucintai?

Aku ingin tinggal bersamamu di dalam pertanyaan ini, karena kedukaan setelah kehilangan seseorang yang kita cintai bukanlah masalah yang harus diselesaikan, melainkan sebuah ruang yang perlu kita masuki dengan perlahan dan penuh hormat. Rasa sakit yang kau rasakan itu nyata, dan tidak ada jalan pint

Aku ingin tinggal bersamamu di dalam pertanyaan ini, karena kedukaan setelah kehilangan seseorang yang kita cintai bukanlah masalah yang harus diselesaikan, melainkan sebuah ruang yang perlu kita masuki dengan perlahan dan penuh hormat. Rasa sakit yang kau rasakan itu nyata, dan tidak ada jalan pintas untuk melewatinya.

Santo Agustinus, yang juga pernah hancur hatinya karena kehilangan sahabat yang sangat ia kasihi, menggambarkan pengalaman ini dengan kejujuran yang menyayat hati. Ia tidak mencoba menutupi lukanya dengan kata-kata indah atau terburu-buru mencari penghiburan, melainkan mengakui betapa gelapnya dunia ketika orang yang dicintai telah tiada:

"Betapa hatiku diliputi kegelapan oleh dukacita, dan apa pun yang kulihat hanyalah kematian. Tanah airku menjadi siksaan, dan rumah ayahku menjadi ketidakbahagiaan yang luar biasa; dan segala hal yang pernah kumiliki bersamanya, kini tanpanya berubah menjadi siksaan yang sangat hebat. Mataku mencarinya di mana-mana, namun ia tidak diberikan kepadaku. Dan aku membenci semua benda, karena benda-benda itu tidak memilikinya; dan mereka tidak bisa lagi berkata kepadaku, 'Lihatlah, ia akan datang,' seperti yang biasa mereka katakan saat ia masih hidup tetapi sedang tidak di hadapanku. Aku sendiri telah menjadi teka-teki besar bagi diriku sendiri, dan aku bertanya pada jiwaku mengapa ia begitu sedih dan mengapa ia sangat gelisah, namun ia tidak tahu bagaimana menjawabku." [4]

Kata-kata ini mungkin terasa seperti cermin bagi apa yang sedang kau alami saat ini. Agustinus mengakui bahwa bahkan nasihat untuk "berharap kepada Tuhan" pun terasa tidak mampu menjawab rasa sakitnya pada saat itu, karena kasih manusiawinya kepada sahabatnya begitu nyata dan mendalam. Ia membiarkan air matanya menjadi satu-satunya hal yang manis, karena air mata itu adalah wujud cinta yang belum selesai.

Dalam keadaan seperti ini, Tuhan tidak meminta kita untuk segera merasa baik-baik saja atau untuk langsung menemukan makna di balik kehilangan. Kehadiran-Nya sering kali justru ada di dalam kemampuan kita untuk menanggung rasa sakit itu dengan jujur, tanpa berpura-pura. Rasa jauh yang mungkin kau alami bukanlah tanda ketiadaan-Nya, melainkan bagian dari proses hati yang sedang terluka dan mencari tempat untuk beristirahat.

Mungkin untuk saat ini, menghadapi kedukaan berarti memberi izin kepada dirimu sendiri untuk merasa kehilangan, untuk menangis jika perlu, dan untuk tidak menuntut jawaban dari hati yang masih berdarah. Tuhan menemani kita bukan dengan menghapus rasa sakit itu seketika, tetapi dengan memeluk kita di dalam keheningan dukacita kita, sama seperti Ia menyertai Agustinus yang bergumul dalam kegelapan.

Apakah pendampingan ini dapat menemani perasaanmu saat ini dengan cukup lembut?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  2. [2] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  3. [3] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  4. [4] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
← Kembali ke Faith