Bagaimana aku kembali kepada Tuhan setelah bertahun-tahun menjauh?

Aku mendengar kerinduan yang sangat dalam dalam pertanyaanmu, dan juga rasa berat karena waktu yang telah berlalu. Sebelum kita berbicara tentang langkah-langkah atau jawaban, izinkan aku duduk bersamamu di dalam perasaan itu sejenak. Bertahun-tahun menjauh meninggalkan jejak yang nyata di hati, dan

Aku mendengar kerinduan yang sangat dalam dalam pertanyaanmu, dan juga rasa berat karena waktu yang telah berlalu. Sebelum kita berbicara tentang langkah-langkah atau jawaban, izinkan aku duduk bersamamu di dalam perasaan itu sejenak. Bertahun-tahun menjauh meninggalkan jejak yang nyata di hati, dan wajar jika kepulangan terasa seperti perjalanan yang jauh dan perhaps menakutkan. Rasa hampa dan penyesalan yang mungkin menyertai pertanyaan ini adalah bagian dari cintamu yang sedang mencari jalan pulang; itu bukan tanda penolakan, melainkan bukti bahwa hatimu masih hidup dan merindukan Dia. Engkau tidak perlu memaksakan diri untuk langsung merasa dekat atau utuh; cukup bernapaslah di dalam kerinduan itu, karena Tuhan pun hadir di dalam penantianmu yang sunyi ini.

Ketika engkau siap untuk melangkah, ingatlah bahwa kepulangan itu bukanlah sebuah pencapaian yang harus kau selesaikan dengan kekuatanmu sendiri, melainkan sebuah respon terhadap undangan yang sudah lebih dulu ada. Thomas à Kempis mengingatkan kita dengan lembut bahwa Tuhanlah yang selalu berinisiatif memulihkan, bahkan ketika kita merasa terlambat atau terbebani: “Anak-Ku, Akulah Tuhan yang menguatkan di hari kesesakan. Datanglah kepada-Ku apabila engkau merasa tidak tenteram. ... Tetapi kini, setelah badai berlalu, pulihkanlah semangatmu dalam terang belas kasihan-Ku, karena Aku dekat, sabda Tuhan, untuk memulihkan segala sesuatu secara utuh, berlimpah, dan sempurna” [2].

Perjalanan kembali ini juga sering dimulai dengan kejujuran yang menyakitkan namun membebaskan, sama seperti yang dialami Santo Agustinus. Ia tidak menyembunyikan masa lalunya, melainkan mengubah penyesalannya menjadi doa yang membuka pintu rahmat: “Aku gemetar karena takut, namun sekaligus berkobar karena harapan dan bersukacita dalam belas kasihan-Mu, ya Bapa. ... ‘Hai anak-anak manusia, sampai berapa lama kamu berhati keras? Mengapa kamu mencintai kesia-siaan dan mencari kebohongan?’ Sebab aku telah mencintai kesia-siaan dan mencari kebohongan, namun Engkau, ya Tuhan, telah memuliakan Orang Suci-Mu” [3]. Mengakui bahwa kita pernah mencintai kesia-siaan bukanlah akhir dari cerita, melainkan awal dari pembebasan, karena Dia yang kita cari telah bangkit dan mengirimkan Roh Kebenaran untuk menuntun kita pulang.

Dan jalan pulang itu pada akhirnya bermuara pada kebersamaan yang sederhana dan intim, bukan pada tuntutan untuk langsung menghasilkan buah. Seperti sabda Kristus sendiri: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. ... Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” [4]. Kembalilah dengan cara tinggal di dalam Dia, langkah demi langkah yang kecil dan setia, karena di sanalah kehidupan dan buah itu akan tumbuh dengan sendirinya menurut waktu-Nya.

Semoga kehadiran dan kata-kata ini bisa menemanimu di tempatmu berada saat ini dan memberikan sedikit cahaya bagi langkah kepulanganmu. Apakah ini menjawab apa yang sedang hatimu cari?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  2. [2] Thomas à Kempis — De Imitatione Christi
  3. [3] Sanctus Aurelius Augustinus — Confessiones
  4. [4] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
← Kembali ke Faith