Bolehkah aku menjajaki Tuhan jika aku punya lebih banyak pertanyaan daripada jawaban?

Boleh, bahkan sangat boleh. Memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban bukanlah tanda kegagalan dalam beriman, melainkan tanda bahwa hatimu sedang benar-benar mencari dan terbuka terhadap misteri Tuhan yang jauh lebih besar dari pemahaman kita.

Boleh, bahkan sangat boleh. Memiliki lebih banyak pertanyaan daripada jawaban bukanlah tanda kegagalan dalam beriman, melainkan tanda bahwa hatimu sedang benar-benar mencari dan terbuka terhadap misteri Tuhan yang jauh lebih besar dari pemahaman kita.

Kitab Suci sendiri menunjukkan bahwa Tuhan tidak menegur orang yang datang dengan pertanyaan jujur, melainkan Ia justru mengundang kita untuk masuk ke dalam percakapan yang mendalam tentang misteri keberadaan ini. Dalam Kitab Ayub, ketika manusia bergumul dengan ketidaktahuan, Tuhan menjawab bukan dengan daftar jawaban sederhana, melainkan dengan mengajak merenungkan kebesaran ciptaan-Nya:

"Siapakah orang ini yang menggelapkan rencana dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Berkaslah pinggangmu seperti laki-laki; Aku akan bertanya kepadamu supaya engkau memberitahu Aku. Di manakah engkau ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, jika engkau mempunyai kepintaran! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya, atau siapakah yang telah merentangkan tali pengukur padanya?" [1]

Pertanyaan-pertanyaan ilahi ini, alih-alih menutup ruang tanya, justru memuliakan pencarianmu. Tuhan seolah berkata bahwa Ia hadir even di dalam ketidaktahuan kita, dan bahwa pertanyaanmu adalah bagian dari cara Ia menyatakan kebesaran-Nya kepadamu. Kamu tidak diminta untuk sudah tahu semuanya sebelum boleh mendekat; kamu diminta untuk bersiap, "berkaslah pinggangmu," dan melangkah bersama-Nya di tengah misteri itu.

Pencarianmu ini juga menyentuh hal yang paling mendasar bagi setiap manusia. Katekismus Gereja Katolik menegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan asal dan tujuan hidup ini adalah landasan iman itu sendiri:

"Katekese tentang penciptaan sangat penting. Katekese ini menyangkut dasar-dasar kehidupan manusiawi dan Kristen: karena katekese ini memberikan jawaban iman Kristen terhadap pertanyaan dasar yang diajukan manusia di segala zaman: 'Dari mana kita berasal?' 'Ke mana kita pergi?' 'Apa asal mula kita?' 'Apa tujuan akhir kita?' 'Dari mana datangnya dan ke mana perginya segala sesuatu yang ada?' Kedua pertanyaan tentang asal mula dan tujuan ini tidak dapat dipisahkan. Keduanya menentukan makna dan arah hidup serta cara bertindak kita." [2]

Jadi, pertanyaanmu bukan penghalang, melainkan pintu gerbang. Iman Kristen justru lahir dari keberanian untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan inilah, dan membiarkan Tuhan perlahan-lahan membentuk hati kita di dalam proses pencarian tersebut.

Dalam perjalanan ini, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan intelektual terlebih dahulu, melainkan menawarkan jalan yang bisa kau tempuh selangkah demi selangkah bersama-Nya. Seperti yang difirmankan-Nya melalui Nabi Mikha, syarat untuk berjalan bersama Tuhan ternyata sangat sederhana dan membumi:

"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik dan apa yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kasih setia, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu." [3]

Ketiga hal ini—berlaku adil, mencintai kasih setia, dan hidup rendah hati—bisa kau lakukan sekarang juga, bahkan saat jawaban-jawaban besar belum kau temukan. Justru di situlah Tuhan sering kali paling dekat: bukan dalam kepastian yang mutlak, melainkan dalam langkah kecil yang setia dan rendah hati.

Semoga hal ini menguatkan hatimu dan memberimu izin untuk terus melangkah dengan tenang dalam pencarianmu. Apakah penjelasan ini membantu menjawab pergulatan hatimu?

Inilah kata-kata para kudus dan tradisi. Jika ini juga pertanyaanmu, berbicaralah langsung dengan Faith — gratis, pribadi, tanpa perlu akun.
Jawabanmu untuk pertanyaan mengapa?

Sumber

  1. [1] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  2. [2] Ioannes Paulus PP. II — Catechismus Catholicae Ecclesiae
  3. [3] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
  4. [4] Sanctus Hieronymus (trans.) — Biblia Sacra Vulgata Clementina
← Kembali ke Faith